Minggu, 01 Januari 2017

Fatamorgana.

Read the 1st part: Singkat.

Senin, 29 November 2016

     Seminggu setelah pertemuan yang begitu singkat dengannya, aku masih tidak bisa melupakan kejadian itu. Saat pulang ke rumah, begitu banyak hal yang berkecamuk di dalam hati dan pikiranku. 
Dia hanya sendirian saat pergi menonton film. Aku berdua dengan kakakku. Mungkinkah dia mengira kakakku adalah pacarku? Pikiran berusaha keras mengingat apa saja yang aku lakukan dengan kakakku saat sedang menunggu di luar studio. Kami duduk bersebelahan, main handphone, bercerita. Itu saja. Menurutku, tidak ada hal yang dapat mengindikasikan aku dan kakakku terlihat seperti sepasang kekasih. Tapi tentu saja, pandangan tiap orang berbeda-beda dan dia mungkin berpikir bahwa aku dan kakakku adalah sepasang kekasih. Hal itu yang sebenarnya berkecamuk di dalam pikiranku sejak kami meninggalkan bioskop. Apakah aku masih menyimpan perasaan padanya? Pertanyaan itu sempat aku lontarkan berkali-kali pada malam sebelum aku tidur selama satu minggu ini. Namun aku menyadari bahwa aku tidak merasakan sesuatu yang spesial saat melihatnya. Hanya jantungku yang seketika berdegup semakin kencang karena kaget bahwa aku bisa menemuinya dan juga karena apa yang aku bayangkan dapat menjadi kenyataan. Hanya itu. Aku menyadari tidak ada perasaan lain yang aku rasakan saat itu yang membuatku merasa aku masih menyukainya. 

     Memori akan pertemuan singkat itu benar-benar membekas bagaikan fatamorgana untuk hatiku...
Aku selalu mengira bahwa aku masih menyukainya, padahal tidak. Semua itu hanyalah ilusi karena satu keinginan kuat yang pernah hadir di dalam diriku; mempertahankannya. Mempertahankannya sebagai seorang teman setelah apa yang terjadi kepada kami berdua. Hingga saat aku kembali melihatnya, banyak hal yang terbayang-bayang di benakku yang aku harap dapat dilepaskan dan disampaikan kepadanya; aku berharap aku bisa menyapanya saat aku melihatnya; aku berharap aku bisa menemaninya nonton, dengan duduk di sampingnya sebagai seorang teman; aku berharap dia menyapaku sebagai seorang teman yang telah lama tidak ia temui; aku berharap aku bisa membuatnya tau bahwa lelaki yang bersamaku hanyalah kakakku dan bukan pacarku. Harapan yang terakhir memang agak gila, tapi hal itu yang benar-benar memenuhi pikiranku. Hingga saat ini, aku masih membayangkan jika suatu saat nanti, ketika aku sudah mampu- dan diizinkan ibuku- pergi bioskop sendiri, kami akan bertemu kembali di bioskop dan mungkin bisa memperbaiki apa yang selama ini ditinggal rusak oleh kami berdua. 

     Namun sudahlah. Semua itu hanya harapan dan angan-angan yang sebenarnya tidak begitu aku inginkan terjadi. Aku hanya bisa berharap dan berdoa agar diberikan masa depan yang terbaik oleh Tuhan, dengan dia ataupun tanpa dirinya di dalam masa depanku. 

Untuk kamu, yang akan selalu aku ingat sampai kapanpun. xx
D.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar